Kami Tak Patah Arang Meski Sudah Patah Tulang

Langkah itu berkah. Bersama langkah, setiap individu akan berpindah. Dari satu tempat ke tempat yang lain. Menuju sesuatu yang dituju. Mendekati apa yang mereka cermati. Menemui apa yang ada dalam mimpi. Mengunjungi tempat yang mereka cari.

Rasanya semua menjadi indah karena langkah. Namun semua itu tak lagi mudah, jauh dari indah, ketika langkah sudah patah. Tak ada lagi pepatah, “selangkah lebih maju “ karena semua itu menjadi semu. Menjadikan semuanya tak menentu. Ingin berbuat tapi serba tidak tahu, atau jadi ragu-ragu.

Hidup ketiganya menjadi begitu. Mereka, adalah sekumpulan individu yang merasa hidupnya “buntu”, tidak lagi bermutu.

Adalah Harsad (45), Pratikno (42), dan Slamet Nurul Supriadi (28). Merekalah yang harus terpotong langkahnya. Perlahan memelan. Melambat dan hampir tamat. Merka tidak lagi segesit yang dulu ketika mereka masih mampu bertumpu pada kekuatan kedua kakinya.

Ketiganya punya cerita yang berbeda, meski nasib mereka kini hampir dipastikan sama. Mereka mendapati takdir hidupnya tak lagi sempurna, tapi jadi “tuna”. Mereka, hampir terbiasa dengan dirinya sebagai penyandang “tuna daksa”.

Cerita Harsad misalnya, lelaki berusia 45 tahun asal Desa Gebang, Kecamatan Padang Cermin, Bandar Lampung. Kecelakaan yang dialaminya menutut dia harus bersikap jauh lebih ikhlas. Sebab ia harus kehilangan kaki kirinya.

Harsad mengisah, kecelakaan itu berawal ketika dirinya hendak pulang menemui keluarga selepas kerja. Maklum saja, meski terbilang keluarga kecil – ia hanya memiliki istri dan satu orang anak – tapi baginya itu adalah harta yang paling berharga.

Dan hari itu baginya biasa-biasa saja. Tak ada tanda-tanda akan terjadi sesuatu yang akan menimpanya. Seperti biasa, ia langsung menuju tempat parkir di mana ia biasa meletakkan motornya pada pagi hari. Sebentar saja memanaskan motor, Harsad pun langsung memacu kuda besinya menuju rumah.

Kecepatannya hanya rata-rata, sepanjang jalan, emosinya pun cukup tertata. Namun nasib memang lagi apes. Di tengah jalan, motornya terhimpit kendaraan besar. Ia terjepit di antara bus dan truk. Dan kecelakaan pun tak terhindarkan.

Alhasil, kaki kirinya langsung remuk. Kondisinya terbilang cukup parah. Tak adalagi yang bisa dilakukan pada saat itu selain tindakan amputasi pada kaki kirinya. Apalagi, sebelumnya ia juga menderita kanker tulang di kaki kirinya itu. 

Langkah dokter praktis membuatnya tak lagi mempunyai telapak kaki kiri. Harsad harus merelakan kaki kirinya dipotong sebatas lutut. Selain itu, karena mal fungsi, Harsad pun mengalami pemdendekan otot sendi lutut pada kaki bagian kirinya.

Tak hanya merampas kaki kirinya, kecelakaan itu sontak membuat hidupnya berubah drastis. Harsad tak lagi produktif. Ia kehilangan pekerjaan.

Lain Harsad, lain Pratikno. Lelaki berusia 42 tahun asal Desa Sidodadi, Kecamatan Padang Cermin, Bandar Lampung, ini punya cerita yang sedikit berbeda. Kondisi Pratikno tak jauh lebih menyenangkan dibandingkan Harsad. Malah, ia hampir kehilangan satu bagian kaki kirinya. Kecelakaan itu hanya menyisakan sedikit bagian kaki kirinya dari pangkal paha.

Pratikno yang bekerja serabutan – ia bertani, berkebu, dan tak jarang juga melaut - menceritakan bagaimana kecelakaan itu berawal ketika dirinya sedang berada di tengah laut untuk mencari ikan.

Hari itu, Pratikno berniat melaut untuk mencari tambahan penghasilan. Itu sudah biasa ia lakukan ketika pendapatannya dari bertani dan berkebun tak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Ia melaut seperti biasa. Meski ia sadar betul apa yang dilakukannya tidaklah biasa. Ia tahu cara yang dilakukannya untuk menangkap ikan, sangat berisiko. Namun pikirannya seolah tak jalan. Ia sedikit tidak sabar kalau harus menggunakan cara-cara yang benar. Dan ia lebih memilih menggunakan bahan peledak, yang dirakit menjadi bom dengan daya yang cukup untuk melemahkan ikan-ikan.

Namun naas, niatnya mendapat ikan malah berbuah kecelakaan. Ia yang hendak melempar bom ke tengah laut, tanpa sadar sumbu terbakar terlalu cepat. Belum sempat ia melontar, bom itu sudah meledak. Akibatnya, kaki kiri dan juga jari tangan kiri menjadi korban.

Keadaannya cukup parah. Kaki kirinya hancur. Luka di kaki kiri itu hampir mustahil disembuhkan. Sehingga tim medis memutuskan, Pratikno harus diamputasi sampai batas paha atas. Tak hanya itu, jari tangan kirinya pun turut dihilangkan.

Bertahun-tahun, hidupnya harus bergantung dengan tongkat. Tangan kirinya pun harus rela dengan jumlah jari yang tak lengkap. Pun begitu, telapak tangannya mulai mengecil.

Keadaan Slamet tak jauh lebih beruntung dari keduanya. Laki-laki bernama lengkap Slamet Nurul Supriadi mengalami cacat pada usia yang sangat muda. Pemuda yang berasal dari Desa Gisting, Kecamatan Tanggamus, Bandar Lampung ini, bercerita cacat fisiknya ia dapatkan ketika baru saja lulus dari SMU. Yang lebih menyedihkannya, selain ia masih muda, ia juga harus merelakan kedua kakinya hilang setelah dipotong di atas meja operasi.

Pria yang akrab disapa Slamet itu, mengisahkan awal kejadian itu pada tahun 2009 lalu. Kala itu, ia yang bekerja di pabrik batako, tak kuasa menolak ajakan bos nya untuk membantu mengambil pohon bambu di kebun. Malang nasib Slamet, pohon bambu setinggi 4 meter yang ditebang roboh menimpa kedua kakinya.

Salah satu kakinya diamputasi dokter karena tidak memungkinkan lagi kalau dibiarkan. Namun setahun kemudian, Slamet kembali harus diamputasi pada kaki yang sebelahnya lagi karena ia mengeluh kesakitan.

kedua kakinya sekarang tak lagi berfungsi dengan baik kendati dokter masih menyisakan ruas kaki yang cukup panjang. Ia pun harus dipapah dengan tongkat untuk berpindah kesana kemari. Pun begitu, sampai saat ini ia tetap berusaha mencari nafkah sebab ia harus menghidupi adik dan ibunya.

Lambat laun ketiganya tampak terbiasa. Mereka sadar betul meski mereka berbeda, tapi mereka meyakini itu semua membuatnya menjadi lebih istimewa. Tak ada kata ‘patah arang’ meski mereka sudah ‘patah tulang’ kaki.

Mereka yakin harapan itu ada walau tidak banyak. Kepasrahannya hanya disandarkan pada segelintir harapan, ‘kelak suatu saat akan kembali berjalan’.

Hingga suatu ketika, PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk (MKNT), melalui MKNT Foundation yang mempunyai program “Gerakan 1000 Langkah”, menghubungi ketiganya. Menawarkan program bantuan pembuatan kaki palsu secara cuma-cuma.

Ketiganya pun riang. Mereka merasa harapannya diijabah. Apa yang sudah diangan-angankan sejak lama, berubah jadi nyata. Mereka akan menerima bantuan kaki palsu.

Kondisi ketiganya yang berbeda, membuat pemasangan kaki palsu memerlukan penanganan yang berbeda pula. Tenaga ahli yang khusus menangani pembuatan dan pemasangan kaki palsu membutuhkan waktu 2 jam untuk memasangkan secara sempurna kaki artifisial ke Harsad dan Slamet, sementara pemasangan pada Pratikno memakan waktu hingga 2,5 jam.

Kini ketiganya bisa sedikit lega. Mereka bisa kembali bertumpu pada kakinya meski itu palsu. Mereka bisa berjalan walau masih pelan. Namun bagi mereka, itulah harapan yang menjadi kenyataan.

 

Ketiganya merasa sangat berterima kasih kepada PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk (MKNT), yang sudah peduli terhadap kondisinya. Atas sumbangsihnya, mereka mendoakan supaya PT MKNT terus lancer dalam kegiatan bisnisnya sehingga MKNT Foundation dapat terus membantu penyandang tuna daksa di seluruh Indonesia. 

csr-lampung.jpg

 

whatsapp-image-2017-04-24-at-112421-am.jpeg

 

whatsapp-image-2017-04-24-at-112426-am.jpeg