Bogor, 09 Agustus 2016

Aku Tak Pernah Bermimpi Hidup Tanpa Kaki

Sudah Jatuh Tertimpa Tangga Pula. Nasib siapa yang menyana. Dulu ada sekarang tiada. Sebelumnya mampu setelahnya lesu. Apa yang bisa dilakukan? Tidak ada, karena dia tidak bisa apa-apa. Langkahnya sangat berat walau sekadar untuk merapat.

Begitulah kehidupan Slamet, pria 48 tahun asal Cimanggis, Bojong Gede, Bogor. Dia akrab disapa Slamet oleh orang-orang di sekitarnya. Usianya sekitar 48 tahun. Slamet tinggal di kampung Cimanggis, Kecamatan Bojong Gede, Kabupaten Bogor.

Kemalangan yang didapatnya, seolah tak juga berhenti. Hidupnya tak seberuntung orang lain. Ia cacat. Kedua kakinya tak lagi berfungsi setelah diamputasi. Kini ia sangat bergantung dari pemilik bengkel yang kadang kala memakai jasanya untuk membantu di bengkel. Ketika bertemu dengan MKNT Foundation beberapa waktu yang lalu, ayah tiga anak ini mengisah awal dari berakhirnya kehidupan normal yang ia miliki sebelumnya.

Jauh sebelum kecelakaan itu terjadi, tepatnya sebelum tahun 1991. Slamet adalah sosok pria yang sangat giat. Ia selalu mengerjakan apa yang sekiranya bisa ia kerjakan. Ia memang terkenal tak bisa diam. Selalu ada saja yang dikerjakannya. Slamet juga terkenal sebagai tukang yang serba bisa.

Dulu, dengan kemampuan teknik nya, ia sempat bekerja sebagai tukang di perusahaan kontraktor. Ia bekerja sebagai tukang yang cukup diandalkan. Slamet juga cukup cekatan dalam bekerja. Bergerak lalu lalang, hilir mudik, di tengah-tengah kesibukan para pekerja yang lainnya, itu sudah biasa. Membawa beban berat, penat, terik, juga sarat dialaminya.

Bahkan keadaan penuh risiko pun sudah biasa ia temui. Namun, suatu hari Slamet memang sedang tidak beruntung. Slamet tak selamat dari marabahaya yang ada di sekitarnya. Nasibnya apes, ia tertimpa benda keras pada saat sedang bekerja. Celakanya, benda keras itu tepat mengenai kaki kirinya sehingga menyebabkan luka yang cukup serius.

Semula, kecelakaan itu hanya menyebabkan luka pada kaki kiri Slamet. Namun tak sewajarnya luka, bertahun-tahun sudah luka itu tak kunjung sembuh. Malah menimbulkan infeksi yang parah. Slamet pun hanya bisa pasrah. Ia tak bisa menolak meskipun itu sangat tidak bisa diterima olehnya. Keputusan dokter yang kala itu merawatnya, menyarankan tindakan amputasi pada kaki kiri Slamet karena tidak ada lagi opsi lain.

Setelah proses amputasi, Slamet pun mulai menerima keadaanya. Kalau ia memang berbeda, ia lain daripada yang lain. Kondisinya tak senormal dulu lagi. Pun begitu, tak mengeluh. Slamet tetap semangat menjalani hidup dan selalu berusaha menjadi seperti orang pada umumnya.

Ia tetap bergerak seperti sebelum-sebelumnya, walau tak selincah biasanya. Kesana-kemari ia mencari apa yang bisa memberinya sedikit rezeki. Begitu terus dari hari ke hari.

Hingga suatu hari tanpa ia sadari. Takdir itu terulang lagi. Kejadian yang sangat membuatnya terpukul. Seolah memantul dan terjadi lagi. Slamet mengalami kecelakaan untuk kedua kali. Dan lagi-lagi yang mengalami luka adalah kaki. Bukan lagi kaki kiri tapi kali ini kaki kanan Slamet.

Bak antan patah, lesung hilang. Kemalangannya terus-terusan datang. Kejadian serupa menimpanya dalam jeda 24 tahun berselang. Kali kedua, luka yang dialaminya di kaki kanan pun kembali tak bisa disembuhkan. Entah apa alasannya. Slamet tak mengerti, maklum ia tak mengantongi ijazah dari jenjang pendidikan tinggi. Hingga akhirnya Slamet hanya mengangguk, tertunduk. Lesu, membisu tanpa tahu akan seperti apa hidupnya setelah itu. Ia tak berkata-kata, ketika dokter RS PMI Bogor dengan berdalih mencegah infeksi, menyarankan untuk mengikhlaskan kaki satu-satunya yang ia miliki harus diamputasi, lagi!

Apa mau dikata, Slamet harus bisa rela. Hari-hari berikutnya ia jalani tanpa kaki sama sekali. Merangkak, ngesot, tak jarang juga berguling Slamet lakoni ketika ia harus berpindah tempat. Lama kelamaan, kemalangannya membuahkan ide cemerlang. Ia dibantu orang-orang sekitar mulai merancang dan merakit kendaraan khusus untuk Slamet supaya tetap bisa bergerak tanpa merangkak.

 Dengan itu, ia sedikit lebih senang, setidaknya beban berat ketika ia hendak bergerak sedikit hilang. Meskipun dalam hatinya ia tetap berharap bisa menggerakan otot-otot kakinya yang masih tersisa sebatas paha.

Harapannya terkabul. Suatu hari laki-laki yang menjadi buruh lepas di bengkel ini dihubungi oleh pihak MKNT Foundation. Salah satu yayasan yang didirikan oleh PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk (MKNT), untuk menaungi para penyadang tuna daksa seperti Slamet. Melalui program yayasan yang disebut “ Gerakan Ayo Berjalan 1000 “ langkah, PT MKN juga menjadikan hal ini sebagai salah satu bentuk tanggung jawab serta kepedulian perusahaan terhadap lingkungan. Bahkan MKNT Foundation ini menjadi salah satu program CSR yang diunggulkan.

Raut wajahnya senang bukan kepalang. Ia menerima begitu saja tawaran yang diberikan oleh MKNT Foundation kala itu. Ia sangat gembira ketika MKNT Foundation berencana mendatanginya dan membuatkan kaki palsu. Ia tahu meski itu tak bisa mengembalikan keadaannya seperti sedia kala, tapi baginya itu adalah sedikit harapan baru bagi ia dan hidupnya.

Ketika bertemu dengan tim MKNT Foundation, ia menyambutnya dengan sangat antusias. Serasa tak sabar ia ingin melihat kedua kakinya kembali tersambung dengan kaki palsu. Ia cukup kooperatif, ia mengikuti dengan seksama pembuatan dan pemasangan kaki palsunya. Prosesnya memakan waktu kurang lebih 4 jam.

Slamet tampak sumringah meski masih harus dipapah. Tapi itu tak sedikitpun menyurutkan niatnya untuk kembali melangkah. Perlahan namun pasti, ia belajar berjalan. Sedikit demi sedikit, setapak demi setapak, ia mulai bergerak. Melihat keadannya, MKNT Foundation pun berinisiatif memberikan bantuan tambahan berupa tongkat untuk membantu Slamet belajar berjalan.

 

Kini hidup Slamet sudah kembali berjalan. Ia sudah bisa beraktivitas lagi. Slamet sangat berterima kasih atas sumbangsih PT MKN. Slamet sangat senang karena ia bisa berjalan. Selangkah demi selangkah, Slamet merasa hidupnya sudah kembali meski harus dengan kaki yang tidak asli. 

bogor.jpeg