Surabaya, 29 Desember 2015

1000 langkah untuk masa depan cerah

Siapa yang tak pasrah kala kaki tumpuan badan sudah patah. Siapa yang membantah saat langkah terpapah menggiring hidup tak menentu arah.

Ia biasa dipanggil Mat Holan. Usianya kira-kira 54 tahun. Mat Holan tinggal di Surabaya. Sehari-hari ia bekerja mengais sampah demi mendulang rupiah. Meskipun tak banyak, tapi ia tetap bersyukur. Apa pasal? Tak banyak yang bisa dilakukannya. Ya, Mat Holan sangat terbatas untuk berkarya. Bukan tidak bisa, tapi lebih tepatnya karena tak berdaya, ia tak berjaya.

Sebagaimana yang lainnya, Mat Holan juga punya banyak keinginan. Namun sayangnya keinginannya tak lebih dari sekadar angan-angan. Semuanya berubah seketika kejadian itu datang. Walau merasa tak senang, tapi ia pun tak bisa berbuat apa-apa.

Mat Holan, pria berperawakan besar ini, mengalami kecelakaan yang berat hingga mengubah semua keadaan. Pekerjaan, keinginan, cita-cita, tujuan, bahkan hidupnya, semua mendadak berubah. Tidak lagi sama, ia tidak lagi bekerja seperti biasanya, keinginannya sirna, cita-citanya kandas, tujuannya tak jelas, semua karena kejadian itu. Kejadian yang mengharuskan ia untuk mengubah cara berpikirnya. Dari yang biasa menjadi luar biasa. Ia harus berpikir ekstra, seolah tak ada lagi kata selain “walau bagaimana keadaannya harus tetap berkarya”.

Kecelakaan itu, bahkan meluluhlantahkan sendi kehidupannya yang paling penting kala itu. Ya, bagaimana tidak, akibat kecelakaan itu ia tidak bisa lagi melakoni profesinya. Praktis keadaan ekonomi rumah tangganya goyang.

Sebelum kejadian kecelakaan, Mat Holan dikenal sebagai sosok pria tangguh. Bahkan orang terdekatnya hampir tak pernah mendengarnya mengeluh. Hari-harinya ia habiskan di jalanan. Ya, ia berprofesi sebagai sopir bus.

Kehidupannya di jalan mencetak Mat Holan sebagai individu dengan karakter yang keras dan tegas. Di kalangan sesama sopir, ia terkenal pekerja keras. Bertahun-tahun tubuhnya ia sandarkan pada jok bus yang keras. Pahit – manis, asam garam kehidupan jalanan semua sudah dimengertinya.

Hingga pada suatu hari, kejadian naas itu terjadi. Pagi itu, ia berangkat untuk mengarahkan armada busnya dengan trayek seperti biasa. Tanpa menyana, ia tetap santai memulai hari. Sebentar mengelap-elap kaca depan bus, ia pun langsung melajukan busnya untuk “narik” penumpang yang sudah menunggu.

Ia tak sedikitpun tahu kalau pada saat itu hendak terjadi sesatu. Mat Holan mengendarai busnya seperti biasa, di jalanan yang juga ia biasa lewati dengan pemandangan kanan-kiri yang itu-itu juga. Namun naas, entah apa yang mengganggunya saat itu, pada saat ia sedang mengendarai bus, tiba-tiba saja “ bruuuuuak”. Kecelakaan pun tak terhindarkan.

Mat Holan terjatuh. Ia terluka dan dilarikan ke rumah sakit. Kakinya mengalami luka yang cukup serius. Akibat kejadian, dokter yang menanganinya pada saat itu tak bisa berbuat banyak. Tak ada lagi pilihan lain selain melakukan tindakan amputasi pada kaki Mat Holan.

Ia sempat shock mendengar saran dokternya, namun Mat Holan juga tak mengerti harus bagaimana. Waktu itu, ia hanya berharap dokter bisa membantunya untuk menghilangkan rasa sakit di bagian kaki itu. Meski setengah hati menyetujui, akhirnya dokter pun menghilangkan satu kaki milik Mat Holan.

 

Dalam sekejap semuanya berubah. Mat Holan yang terbiasa menginjak pedal gas bus yang dikendarainya, kini ia hanya bisa menginjak tumpukan sampah secara perlahan. Memilah, memilih, barang rongsokan yang masih bisa ia tukarkan dengan rupiah. 

csr-surabaya-iii.jpeg

 

csr-surabaya-iv.jpeg

csr-surabaya-v.jpeg