Akivitas Perseroan terpengaruh oleh berbagai jenis risiko keuangan: risiko pasar (termasuk risiko nilai tukar, risiko harga komoditas dan risiko tingkat suku bunga), risiko kredit, risiko likuiditas serta risiko permodalan. Secara umum, program pengelolaan risiko keuangan Perseroan berfokus kepada ketidakpastian pasar keuangan dan berusaha meminimalisir efek tidak wajar terhadap kinerja keuangan Perseroan. Pengelolaan risiko dilakukan oleh Direksi Perseroan yang meliputi identifikasi, evaluasi dan melakukan lindung nilai atas risiko keuangan, jika diperlukan. Direksi menyediakan prinsip-prinsip keseluruhan untuk pengelolaan risiko, termasuk risiko pasar, kredit, dan likuiditas serta permodalan.

Risiko di bawah ini disusun berdasarkan bobot dari dampak masing-masing risiko terhadap kinerja keuangan, kegiatan operasional dan prospek Perseroan serta investasi pada saham Perseroan.

1. Risiko cepatnya perubahan perkembangan teknologi. Telepon selular merupakan salahsatu perangkat elektronik yang mengalami perkembangan sangat pesat. Produk Perseroan memiliki teknologi terkini yang juga harus mengikuti perkembangan teknologi dunia agar dapat bersaing dengan produk-produk sejenis lainnya. Perubahan suatu teknologi yang lebih maju dan berbeda dengan produk – produk yang dijua oleh Perseroan saat ini, dapat berdampak secara material dan negatif dan secara langsung mempengaruhi penjualan produk Perseroan dan mengakibatkan persediaan yang tidak dapat dijual. isiko ini dapat mempengaruhi secara negatif kinerja keuangan, kegiatan operasional dan prospek Perseroan.

2. Risiko ketidakmampuan memasarkan inovasi produk dan layanan baru. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi pencapaian penjualan Perseroan adalah kemampuan Perseroan mengembangkan dan memasarkan produk serta layanan baru sesuai trend yang berlaku. Jika Perseroan tidak mampu menyediakan produk tersebut, hal ini dapat menimbulkan risiko kehilangan pangsa pasar dan daya saing sehingga mempengaruhi tingkat pertumbuhan dan menimbulkan dampak secara material dan negatif terhadap pendapatan dan prospek Perseroan.

3. Risiko penurunan kualitas produk Perseroan. Perseroan tidak memproduksi sendiri produk telepon selularnya, sehingga terdapat kemungkinan terjadinya penurunan kualitas produk. Hal ini dapat menyebabkan berkurangnya pangsa pasar dan daya saing Perseroan, sehingga dapat berdampak secara material dan negatif terhadap kinerja keuangan, kegiatan operasional dan prospek Perseroan.

4. Risiko kelangsungan pasokan produk yang dipasarkan oleh Perseroan. Perseroan tidak memiliki perjanjian yang mengikat pemasok/produsen untuk menyalurkan produknya ke Perseroan selain mekanisme pembelian dan pemesanan dengan cara purchase order. Tidak ada jaminan yang mengikat antara Pemasok dan Perseroan untuk kelangsungan pasokan produk di tahun-tahun mendatang, dapat berdampak secara material dan negatif terhadap kinerja keuangan, kegiatan operasional dan prospek Perseroan.

5. Risiko ketergatungan pada pengecer /agen penjualan. Sebagai distributor telepon selular, Perseroan sangat tergantung pada keaktifan dan hasil pengecer/ agen penjual dalam menjual produk Perseroan. Penurunan hasil penjualan produk Perseroan pada pengecer/ agen dapat berdampak secara material dan negatif terhadap kinerja keuangan, kegiatan operasional dan prospek Perseroan.

6. Risiko persaingan usaha di bidang penjualan telepon selular, computer genggam dan penjualan pulsa smartphone. Persaingan usaha di bidang penjualan telepon selular sangat tinggi. Berbagai merek telepon selular dan komputer genggam secara bebas sudah dijual di pasar termasuk milik Perseroan. Dengan semakin banyaknya merek yang ditawarkan secara bebas di masyarakat dapat mempengaruhi besarnya pangsa pasar Perseroan. Risiko ini secara material dan negatif dapat mempengaruhi kinerja keuangan, kegiatan operasional dan prospek Perseroan.

7. Risiko fluktuasi nilai tukar valuta asing Perseroan menghadapi risiko fluktuasi nilai tukar valuta asing dimana pembelian produk kepada pemasok dilakukan dalam mata uang asing dengan jumlah yang signifikan sedangkan pendapatan usaha Perseroan dalam mata uang Rupiah. Melemahnya nilai tukar Rupiah dapat berdampak material negati terhadap kegiatan usaha, kondisi keuangan dan hasil operasi Perseroan.

8. Risiko kemungkinan perubahan pilihan konsumen. Adanya berbagai macam merek baru dengan konten dan aplikasi yang terus bertambah dapat mempengaruhi selera konsumen Perseroan untuk memilih merek lain jika Perseroan tidak secara aktif memperbaharui produknya. Risiko ini secara material dan negatif dapat mempengaruhi kinerja keuangan, kegiatan operasional dan prospek Perseroan.

9. Risiko perubahan peraturan pemerintah di bidang telekomunikasi dan perdagangan telepon selular. Bidang telekomunikasi merupakan salah satu bidang yang banyak diatur oleh peraturan Pemerintahan seperti peraturan dari Menteri Perindustrian dan Menteri Perdagangan, terutama bagi pengimpor smartphone. Saat ini, Perseroan melakukan kegiatan utama di bidang perdagangan telepon selular, gadget dan pulsa telepon selular (voucher). Jika terjadi perubahan peraturan Pemerintahan di bidang telekomunikasi yang berhubungan dengan telepon selular, kemungkinan dapat berdampak secara material dan negatif terhadap kinerja keuangan, kegiatan operasional dan prospek Perseroan.

10. Risiko adanya pembelian konsumen pada situasi khusus. Permintaan terhadap telepon selular meningkat pada situasi khusus tertentu terutama pada hari raya dan jika ada produk baru dengan teknologi baru serta jika adanya promosi. Meningkatnya pembelian hanya pada hari raya dan jika ada produk baru dengan teknologi baru serta jika adanya promosi dapat berdampak secara material dan negatif terhadap arus kas Perseroan.

11. Risiko perubahan keadaan ekonomi Indonesia. Penurunan keadaan perekonomian Indonesia dapat berdampak pula terhadap kelangsungan usaha Perseroan. Jika perekonomian Indonesia menjadi lemah dapat berdampak pada daya beli konsumen. Risiko ini secara material dan negatif dapat mempengaruhi kinerja keuangan, kegiatan operasional dan prospek Perseroan.

12. Risiko terjadinya bencana alam. Terjadinya bencana alam merupakan faktor di luar kendali Perseroan. Jika terjadi bencana alam, seperti banjir, gempa bumi, dan lainnya, yang dapat berdampak pada kegiatan penjualan Perseroan maupun pengecer/ agen penjualnya. Risiko ini secara material dan negatif dapat mempengaruhi kinerja keuangan, kegiatan operasional dan prospek Perseroan.