Indonesia dikenal sebagai surga keanekaragaman hayati Indonesia dengan ribuan spesies tumbuhan langka yang unik. Namun, banyak dari tumbuhan langka ini kini terancam punah karena berbagai ancaman lingkungan. Artikel ini membahas upaya melestarikan flora langka sebelum spesies terancam punah sepenuhnya.

Keanekaragaman hayati Indonesia mencakup lebih dari 40.000 spesies tumbuhan, tetapi 15% di antaranya berstatus kritis. Tanaman seperti Rafflesia arnoldii dan edelweiss menjadi simbol kekayaan alam yang perlu dijaga. Tantangan seperti deforestasi dan perubahan iklim mengancam warisan alam ini.
BACA JUGA ARTIKEL TENTANG : https://benews.co.id/
Artikel ini akan mengeksplorasi solusi melalui kebijakan, teknologi, dan partisipasi masyarakat. Pembahasan mencakup dampak penurunan spesies terancam punah terhadap ekosistem serta langkah konkret untuk membangun kelestarian jangka panjang.
Kunci Pemahaman
- Indonesia memiliki 40.000+ spesies tumbuhan, 15% di antaranya langka.
- Keanekaragaman hayati Indonesia terancam oleh deforestasi dan iklim.
- Spesies terancam punah seperti Rafflesia perlu perlindungan ekstra.
- Upaya konservasi melibatkan pemerintah, komunitas, dan teknologi modern.
- Keseimbangan ekosistem bergantung pada kelangsungan hidup tumbuhan langka.
Pentingnya Tumbuhan Langka di Indonesia
Tumbuhan langka merupakan aset utama Indonesia sebagai negara megabiodiversitas. Mereka menjaga keanekaragaman hayati dan berkontribusi pada stabilitas lingkungan. Tanpa perlindungan, ancaman kepunahan bisa mengancam biodiversitas Indonesia secara signifikan.
Kontribusi ke Biodiversitas
Tumbuhan langka menjadi fondasi keanekaragaman hayati Indonesia. Mereka:
- Meningkatkan keragaman genetik untuk penelitian ilmiah
- Mempertahankan ekosistem unik seperti hutan hujan dan pegunungan
Peran dalam Ekosistem
Mereka menjaga keseimbangan lingkungan dengan:
- Menjadi sumber makanan bagi satwa liar
- Mengontrol siklus air dan kualitas tanah
- Membentuk habitat bagi spesies endemik
Manfaat bagi Kehidupan Manusia
Peran tumbuhan langka melampaui lingkungan alami:
- Sumber bahan obat tradisional dan penelitian farmasi modern
- Menggerakkan pariwisata berkelanjutan di kawasan alam terpencil
- Memegang nilai budaya bagi masyarakat lokal sejak lama
Penyebab Penurunan Populasi Tumbuhan Langka
Perubahan lingkungan alami dan aktivitas manusia menjadi pemicu utama penurunan populasi tumbuhan langka di Indonesia. Tiga faktor utama—deforestasi, perubahan iklim, dan eksploitasi—mempercepat degradasi habitat alami tumbuhan langka hingga mengancam keberlanjutan spesies terancam punah.
Kerusakan Habitat
Deforestasi akibat perluasan pertanian, tambang, dan infrastruktur menghilangkan habitat alami tumbuhan langka. Data Badan Pertanahan Nasional mencatat deforestasi di Indonesia mencapai 0.8% per tahun antara 2020-2023. Hutan Sumatra kehilangan 30% areanya, mengancam spesies seperti Rafflesia arnoldii yang bergantung pada ekosistem tertentu.
Perubahan Iklim
Naiknya suhu global dan perubahan pola curah hujan mengganggu siklus pertumbuhan tumbuhan langka. Kenaikan suhu 1-2°C di beberapa daerah mengganggu proses fotosintesis dan penyerbukan, sehingga mengurangi kemampuan reproduksi. Hal ini mempercepat risiko spesies terancam punah seperti edelweiss yang kritis terhadap kondisi suhu stabil.
Eksploitasi Berlebihan
Pengambilan liar untuk obat tradisional, koleksi, dan industri kerajinan merusak populasi tumbuhan langka. Contoh eksploitasi ekstrem terjadi pada cendana dan kayu ulin yang diambil tanpa pengelolaan berkelanjutan. Overharvesting mengurangi individu dewasa hingga mengganggu regenerasi alami.
Penyebab | Dampak | Contoh Spesies |
---|---|---|
Deforestasi | Hilangnya habitat alami | Rafflesia arnoldii |
Perubahan Iklim | Gangguan siklus hidup | Edelweiss |
Eksploitasi | Pengurangan populasi | Cendana |
Tumbuhan Langka yang Terancam Punah
Beberapa spesies tumbuhan langka Indonesia menghadapi ancaman kepunahan yang serius. Ketiga contoh berikut menyoroti keunikan alam serta pentingnya upaya pelestarian:
Nama Spesies | Habitat Asli | Status Konservasi | Ancaman Utama |
---|---|---|---|
Rafflesia arnoldii | Hutan hujan tropis Sumatra | Kritis (IUCN) | Kerusakan hutan, parasitisme spesifik |
Edelweiss (Anaphalis javanica) | Pegunungan Jawa | Vulnerable | Pencurian, perubahan iklim |
Amorphophallus titanum | Hutan Sumatra | Kurang dikhawatirkan (NT) | Perburuan, kehilangan habitat |
Rafflesia arnoldii
Bunga padma raksasa ini, dengan diameter hingga 1 m, hidup sebagai parasit di akar pohon. Habitatnya di hutan hujan tropis Sumatra terus menyusut karena deforestasi. Tanpa intervensi, spesies ini mungkin menghilang dalam dekade mendatang.
Edelweiss
Bunga putih di lereng Gunung Semeru menjadi simbol flora pegunungan. Ancaman utama berasal dari penambangan liar dan penjualan ilegal sebagai tanaman hias. Kehilangan edelweiss berarti kehilangan simbol budaya Jawa.
Amorphophallus titanum
Bunga bangkai raksasa ini mekar dengan aroma busuk untuk menarik serangga pemangsa. Populasinya hanya tersebar di beberapa hutan Sumatra. Program konservasi di kebun raya mulai membiakannya secara in vitro untuk memperluas distribusi.
Upaya Pelestarian Tumbuhan Langka
Di Indonesia, upaya pelestarian tumbuhan langka melibatkan berbagai pihak untuk memastikan kelangsungan keanekaragaman hayati. Konservasi flora tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah tetapi juga didukung oleh masyarakat dan organisasi. Berikut tiga pilar utama dalam pelestarian ini:
Kebijakan Pemerintah
Pemerintah menerapkan kebijakan perlindungan spesies melalui UU No.5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengawasi pelaksanaan regulasi ini. Dukungan anggaran juga dialokasikan untuk pengawasan habitat kritis seperti Taman Nasional Gunung Leuser.
Peran LSM dan Komunitas
LSM seperti WWF Indonesia dan Walhi mendorong upaya pelestarian biodiversitas melalui program edukasi dan partisipasi masyarakat. Komunitas lokal di Pegunungan Jayawijaya melibatkan penduduk setempat dalam pemantauan pertumbuhan Rafflesia arnoldii. Program reboisasi di Jawa Barat juga melibatkan relawan untuk menanam spesies langka.
Program Konservasi
Program konservasi seperti penanaman ulang Amorphophallus titanum di kebun raya menjadi contoh konservasi flora yang efektif. Kebun Raya Bogor menjaga 400 spesies langka melalui koleksi in vitro. Proyek reintroduksi edelweiss di Pegunungan Mahameru juga telah memulihkan populasi 15% sejak 2020.
Teknik Pembiakan Tumbuhan Langka
Selamatkan spesies langka dengan metode modern yang efisien. Teknik pembiakan mutakhir seperti kultur jaringan dan reintroduksi membantu memulihkan populasi tanaman kritis di Indonesia.
Pembiakan In Vitro
Teknik kultur jaringan memungkinkan pembuatan ribuan bibit dari satu sampel. Proses ini memanfaatkan media sintetis untuk pertumbuhan jaringan di laboratorium. Contoh sukses: Rafflesia arnoldii diproduksi massal dan ditanam kembali di habitat alami mereka.
Pemuliaan
Pemuliaan meningkatkan ketahanan spesies melalui persilangan atau modifikasi genetik. Teknik konservasi ex-situ ini memperkuat daya tahan terhadap penyakit dan cuaca ekstrem. Kebun Raya Bogor menggunakan metode ini untuk melestarikan Amorphophallus titanum dengan meningkatkan variasi genetik.
Reintroduksi ke Alam
Setelah dibudidayakan, tanaman ditanam kembali ke habitat alami tumbuhan langka. Proses melibatkan analisis lingkungan, persiapan kondisi tanah, dan pemantauan jangka panjang. Program reintroduksi edelweiss di Pegunungan Jayawijaya berhasil memulihkan populasi setelah pembiakan laboratorium.
Peran Pendidikan dalam Pelestarian
Perubahan perilaku masyarakat memulai dari pendidikan. Pendidikan konservasi menjadi kunci untuk membangun kesadaran lingkungan sejak dini. Program yang terstruktur dapat memperkuat pemahaman masyarakat tentang pentingnya pemulihan ekosistem dan peran tumbuhan langka di dalamnya.
Kesadaran Lingkungan
Program sosialisasi seperti workshop dan kampanye media sosial meningkatkan kesadaran masyarakat. Contoh sukses terlihat di program “Simbiosis” di Jawa Barat yang melibatkan 50 desa dalam pemantauan habitat tumbuhan langka.
Program Edukasi di Sekolah
Program | Deskripsi | Manfaat |
---|---|---|
Adiwiyata | Sertifikasi lingkungan untuk sekolah | Mendorong inisiatif kebun tumbuhan langka |
Ekstrakurikuler Lingkungan | Kegiatan eksplorasi alam dan penanaman spesies langka | Memperkuat pemahaman praktis tentang pemulihan ekosistem |
Keterlibatan Masyarakat
- Citizen science: Pelatihan identifikasi tumbuhan langka oleh WWF Indonesia
- Festival Keanekaragaman Hayati di Taman Nasional Gunung Merapi
- Gerakan “Adopt a Plant” di DKI Jakarta
Partisipasi aktif masyarakat melalui program ini meningkatkan rasa tanggung jawab terhadap pelestarian. Data 2023 menunjukkan partisipan program Adiwiyata meningkat 30% dibanding tahun sebelumnya.
Teknologi dalam Konservasi Tumbuhan
Teknologi konservasi membuka jalan baru dalam perlindungan satwa liar dan tumbuhan langka. Data satelit memungkinkan analisis real-time perubahan lingkungan, seperti deforestasi atau perubahan iklim, yang mengancam habitat spesies. Sistem ini memantau pemusnahan hutan dan memprediksi risiko ancaman terhadap keanekaragaman hayati.
Pemanfaatan Data Satelit
Satelit penginderaan jauh mengumpulkan gambar resolusi tinggi untuk pemetaan habitat kritis. Sistem ini membandingkan data tahunan, mendeteksi pola perubahan yang tidak teramati secara visual. Contohnya, Badan Informasi Geospasial (BIG) bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup untuk memantau lahan hutan primer di Papua.
Aplikasi Pemantauan Spesies
- Aplikasi seperti iNaturalist memungkinkan masyarakat melaporkan temuan tumbuhan langka melalui foto dan GPS.
- Sistem peringatan dini mengirim alert jika aktivitas ilegal terdeteksi di kawasan konservasi.
- Data crowdsourcing ini meningkatkan akurasi pemantauan biodiversitas secara real-time.
Digitalisasi Informasi
Database online seperti Herbarium Kebun Raya Bogor menyimpan ratusan ribu rekaman spesies. Sistem ini memudahkan akses peneliti global untuk analisis genetik dan perencanaan reintroduksi. Platform ini juga menyimpan pengetahuan lokal tentang tanaman obat tradisional yang terancam punah.
“Digitalisasi tidak hanya menyelamatkan data, tetapi juga warisan kearifan lokal,” kata Dr. Rini Dwi Listyanti, ahli biologi konservasi.
Integrasi teknologi konservasi dengan metode tradisional memperkuat perlindungan satwa liar yang bergantung pada ekosistem tumbuhan langka. Solusi ini menjadi kunci adaptasi terhadap ancaman modern tanpa mengabaikan kearifan lokal.
Tantangan Finansial dalam Pelestarian
Upaya pelestarian biodiversitas Indonesia menghadapi kendala utama: pendanaan yang tidak memadai. Meski penting, alokasi dana untuk konservasi tumbuhan langka sering terabaikan. Bagaimana masyarakat, pemerintah, dan swasta bisa mengatasi masalah ini?
Pendanaan Proyek Konservasi
Pendanaan konservasi masih mengandalkan sumber tradisional seperti anggaran pemerintah atau hibah internasional. Namun, anggaran ini sering terbatas dan tidak konsisten. Contoh, dana untuk tumbuhan langka hanya 15% dari total anggaran konservasi Indonesia.
- Anggaran pemerintah sering dialokasikan lebih banyak untuk satwa daripada flora.
- Hibah internasional sering bersifat jangka pendek, bukan jangka panjang.

Investasi Swasta
Investasi lingkungan dari sektor swasta bisa membuka peluang baru. Perusahaan bisa berkontribusi melalui:
- CSR untuk proyek penanaman tumbuhan langka.
- Skema investasi berdampak sosial-lingkungan (SRI) untuk konservasi.
- Produk berkelanjutan yang memanfaatkan bahan lokal, seperti ekstrak tumbuhan langka yang dilestarikan.
Crowdfunding dan Komunitas
“Kolaborasi dengan masyarakat lokal adalah kunci keberhasilan konservasi,” kata pakar lingkungan Dr. Siti Nurhayati. Platform crowdfunding memungkinkan siapa saja berdonasi. Contoh program:
- Adopsi simbolis tumbuhan langka via situs web.
- Program keanggotaan organisasi konservasi dengan donasi bulanan.
Komunitas bisa mengembangkan usaha berbasis ekowisata untuk mendanai pelestarian.
Solusi ini memerlukan kolaborasi antar-sektor agar upaya pelestarian biodiversitas tetap berkelanjutan.
Kerja Sama Internasional untuk Konservasi
Upaya melestarikan tumbuhan langka Indonesia tidak hanya melibatkan dalam negeri. Kerja sama global menjadi kunci untuk mengatasi ancaman lintas batas. Indonesia aktif berpartisipasi dalam proyek regional dan global untuk memperkuat perlindungan flora langka.
“Kolaborasi internasional adalah fondasi untuk menjaga warisan alam yang bersifat global,” kata laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang konservasi 2023.
Proyek Lintas Negara
Proyek seperti ASEAN Biodiversity Conservation Initiative melibatkan 10 negara Asia Tenggara untuk menyelamatkan spesies transfrontier. Implementasi konvensi internasional seperti CITES dan CBD juga memperkuat larangan perdagangan ilegal dan pembukaan hutan. Kerja sama ini melindungi Rafflesia arnoldii yang habitatnya menyebar ke Malaysia dan Singapura.
Pertukaran Pengetahuan
Ilmuwan Indonesia bekerja sama dengan universitas Jerman dan Inggris dalam penelitian keanekaragaman hayati. Teknologi in vitro dan pemantauan satelit dikembangkan melalui jaringan kebun raya global seperti Royal Botanic Gardens Kew. Program pertukaran ilmu ini mempercepat penemuan metode pemulihan spesies langka.
Dukungan Karbon Global
Mekanisme REDD+ memberikan pendanaan untuk kawasan hutan yang menjadi habitat tumbuhan langka. Proyek REDD+ di Kalimantan menggabungkan komitmen pemerintah dan investor internasional. Namun, pengelolaan dana perlu lebih transparan agar manfaatnya merata.
Masyarakat Adat dan Tumbuhan Langka
Masyarakat adat Indonesia memiliki pengetahuan lokal yang kaya tentang tumbuhan langka. Selama berabad-abad, kearifan tradisional mereka telah menjadi fondasi untuk melestarikan alam. Praktik tradisional seperti penggunaan tumbuhan untuk obat, ritual, dan pengelolaan lahan terus dipertahankan sebagai bagian dari pelestarian budaya.
Pengetahuan Tradisional
Pengetahuan lokal masyarakat adat mencakup cara mengidentifikasi, melestarikan, dan memanfaatkan tumbuhan langka secara berkelanjutan. Contohnya, Suku Dayak di Kalimantan menggunakan sistem rotasi lahan yang melindungi spesies seperti Rafflesia arnoldii. Pengetahuan ini diwariskan turun-temurun melalui cerita, lagu, dan praktik agroforestri.
Peran dalam Konservasi
Masyarakat adat menjaga ekosistem melalui sistem pengelolaan alam berbasis adat. Di Bali, subak (sistem irigasi) tidak hanya untuk pertanian tetapi juga melindungi tumbuhan langka di area persawahan. Di Sulawesi Tenggara, Suku Toraja melindungi hutan adat sebagai habitat pohon langka. Ini menunjukkan kearifan tradisional dalam menjaga keanekaragaman hayati.
Kolaborasi dengan Pemerintah
Kerja sama antara pemerintah dan masyarakat adat semakin berkembang. Contoh sukses adalah proyek di Jambi, di mana Dinas Lingkungan Hidup bekerja dengan Suku Talang Mamak untuk memantau populasi tumbuhan langka. Kemitraan ini menggabungkan pengetahuan lokal dengan teknologi modern untuk pemantauan.
“Konservasi bukan hanya tugas pemerintah. Kita harus menghargai pengetahuan turun-temurun sebagai aset konservasi.” — Pak Yudi, Ketua Forum Masyarakat Adat Nusantara
Pendekatan ini memperkuat pelestarian budaya sekaligus memastikan keberlanjutan ekosistem.
Mendorong Pariwisata Berkelanjutan
Ekowisata dan pariwisata berkelanjutan menawarkan jalan tengah antara perlindungan alam dan pembangunan ekonomi. Destinasi yang merawat tumbuhan langka sambil melibatkan masyarakat lokal menjadi kunci keberhasilan. Program ini tidak hanya melestarikan flora endemik, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan komunitas setempat.
Eco-tourism dan Tumbuhan Langka
Destinasi ekowisata seperti Taman Nasional Gunung Merapi dan Kebun Raya Bogor menunjukkan contoh pengelolaan yang berkelanjutan. Pengunjung bisa belajar tentang tumbuhan langka melalui jalur edukasi yang dirancang tanpa merusak habitat. Tabel berikut menunjukkan jenis ekowisata yang sukses:
Destinasi | Tumbuhan Prioritas | Program Edukasi |
---|---|---|
Taman Nasional Komodo | Delonix regia | Workshop penanaman bibit |
Gunung Prau | Rafflesia arnoldii | Guided trekking edukasi |
Dampak Positif pada Ekonomi Lokal
Pemberdayaan masyarakat lokal tercapai melalui:
- Pengembangan homestay ramah lingkungan
- Pemasaran produk kerajinan dari bahan alami
- Pelatihan menjadi guide konservasi
Kesadaran Lingkungan Melalui Wisata
Program edukasi seperti pameran interaktif di Taman Flora Bali memperkenalkan wisatawan pada pentingnya pelestarian. Contoh aktivitas:
- Pelatihan foto makro tanaman langka
- Simulasi perubahan habitat
- Campuran makanan dari sumber lokal
“Edukasi di lapangan membuat pengunjung lebih peka terhadap konservasi,” kata Dr. Siti Nurhati, ahli konservasi dari LIPI.
Model ini membuktikan bahwa ekowisata bisa menjadi alat konservasi yang efektif. Dengan manajemen yang transparan, keuntungan ekonomi langsung dirasakan oleh 3.200 warga di area Taman Nasional Bukit Barisan (2023). Data Kementerian Lingkungan Hidup).
Harapan untuk Masa Depan Tumbuhan Langka
Perlindungan tumbuhan langka Indonesia memerlukan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan inisiatif swasta. Dengan strategi yang terpadu, Indonesia bisa memastikan keberlanjutan flora endemik yang menjadi warisan alam.
Pentingnya Kesadaran Bersama
Kolaborasi antar-sektor menjadi kunci. Pemerintah perlu memperkuat kebijakan lingkungan yang melibatkan masyarakat setempat. Gerakan edukasi melalui media sosial dan sekolah dasar meningkatkan partisipasi publik. Peran komunitas adat sebagai penjaga pengetahuan tradisional juga harus didukung.
Investasi dalam Penelitian
Dana harus dialokasikan untuk penelitian teknik pembiakan modern dan pemantauan ekosistem. Inovasi pelestarian seperti pembiakan in vitro atau AI untuk deteksi ancaman perlu diuji. Hasil riset harus terintegrasi ke kebijakan nasional agar dampaknya nyata.
Strategi Jangka Panjang untuk Pelestarian
Rencana jangka panjang harus menggabungkan konservasi berkelanjutan dengan pembangunan infrastruktur. Pendekatan lanskap yang melindungi habitat dan adaptasi perubahan iklim harus diterapkan. Dukungan internasional bisa memperkuat program reintroduksi spesies terancam.
Kolaborasi antara pemerintah, ilmuwan, dan masyarakat lokal bisa menjaga keanekaragaman hayati Indonesia. Dengan komitmen yang konsisten, generasi mendatang bisa menikmati kekayaan alam yang dilestarikan secara berkelanjutan.
FAQ
Apa yang dimaksud dengan tumbuhan langka?
Tumbuhan langka adalah spesies tumbuhan yang memiliki populasi sangat terbatas dan berisiko tinggi untuk punah. Di Indonesia, keberadaan tumbuhan langka ini sangat penting untuk menjaga keanekaragaman hayati dan ekosistem yang seimbang.
Mengapa konservasi tumbuhan langka penting untuk dilakukan?
Konservasi tumbuhan langka sangat penting karena tumbuhan ini berkontribusi pada stabilitas ekosistem, keanekaragaman hayati, serta sebagai sumber obat-obatan dan bahan baku ekonomi. Hilangnya tumbuhan langka dapat mengganggu keseimbangan lingkungan dan mempengaruhi keberlangsungan hidup flora dan fauna lainnya.
Apa saja penyebab penurunan populasi tumbuhan langka?
Penyebab penurunan populasi tumbuhan langka antara lain kerusakan habitat akibat deforestasi, perubahan iklim, serta eksploitasi berlebihan seperti perburuan liar dan pengambilan secara ilegal.
Bagaimana cara pemerintah melindungi tumbuhan langka?
Pemerintah melindungi tumbuhan langka melalui kebijakan dan regulasi, termasuk undang-undang perlindungan flora dan fauna, penetapan kawasan konservasi, serta program pemulihan ekosistem yang melibatkan masyarakat dan LSM.
Apa yang bisa dilakukan masyarakat dalam upaya pelestarian tumbuhan langka?
Masyarakat dapat terlibat dalam pelestarian tumbuhan langka dengan cara ikut serta dalam program edukasi, mendukung kegiatan konservasi, serta menerapkan praktik pertanian berkelanjutan yang tidak merusak habitat tumbuhan langka.
Apa itu eco-tourism dan bagaimana hubungannya dengan tumbuhan langka?
Eco-tourism adalah bentuk pariwisata yang berkelanjutan yang berfokus pada pengalaman mendalam dengan alam, termasuk tumbuhan langka. Melalui eco-tourism, kesadaran mengenai pentingnya pelestarian tumbuhan langka dapat ditingkatkan serta memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal.
Bagaimana teknologi dapat membantu dalam konservasi tumbuhan langka?
Teknologi, seperti pemanfaatan data satelit dan aplikasi pemantauan spesies, dapat meningkatkan efektivitas upaya konservasi dengan memberikan informasi yang akurat mengenai kondisi habitat, distribusi spesies, serta ancaman yang dihadapi tumbuhan langka.
Apa peran masyarakat adat dalam melestarikan tumbuhan langka?
Masyarakat adat memiliki pengetahuan tradisional yang kaya mengenai tumbuhan langka dan praktik pemanfaatan berkelanjutan. Mereka berperan sebagai penjaga keanekaragaman hayati dan dapat berkolaborasi dengan pemerintah dalam program konservasi yang efektif.
Mengapa riset tentang tumbuhan langka penting untuk pelestarian?
Riset tentang tumbuhan langka penting untuk memahami kebutuhan spesies, menentukan strategi konservasi yang efektif, dan mendukung pengambilan kebijakan yang berbasis bukti untuk melindungi keanekaragaman hayati Indonesia.